ANALISIS EKSEGETIS-TEOLOGIS KONSEP PERSEPULUHAN DALAM MALEAKHI 3:8–12 DAN RELEVANSINYA BAGI GEREJA MASA KINI
Main Article Content
Abstract
Maleakhi 3:8–12 sering ditafsirkan secara reduksionis dalam gereja masa kini, baik sebagai dasar kewajiban persepuluhan yang legalistik maupun sebagai legitimasi teologi kemakmuran, tanpa memperhatikan konteks covenantal Israel pascapembuangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep persepuluhan dalam Maleakhi 3:8–12 secara eksegetis dan teologis, serta mengkaji relevansinya bagi praktik gerejawi kontemporer. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) dan hermeneutika historis-gramatikal. Persepuluhan dalam Maleakhi juga memiliki dimensi sosial yang kuat, karena berkaitan dengan pemeliharaan para imam, orang Lewi, serta kelompok rentan seperti janda, yatim piatu, dan orang asing. Bagi gereja masa kini, penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem persepuluhan Perjanjian Lama tidak dapat diterapkan secara legalistik-literal, namun prinsip teologisnya — kesetiaan kepada Allah, integritas ibadah, pengelolaan berkat secara bertanggung jawab, dan kepedulian sosial — tetap relevan sebagai landasan spiritualitas memberi yang didasarkan pada iman dan kasih, bukan ketakutan akan kutuk atau ambisi memperoleh kekayaan.